• Undangan

    Bisnis Ayam Pelung Semakin Digandrungi


    OLEH DEDI MUHTADI
    KOMPAS, 7 April 2017 hal. 16


    Ayam pelung selama ini dikenal sebagai jenis unggas bersuara merdu dengan kokok panjang. Namun, tidak banyak yang peduli bahwa ayam asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, ini merupakan sedikit dari plasma nutfah Indonesia asli yang mampu bertahan di tengah gempuran ayam ras impor hasil rekayasa genetika

    Sekitar 80 persen populasi sumber daya genetika Nusantara hampir dan sudah punah. Kebijakan peternakan nasional yang berpihak pada industrialisasi ayam ras impor telah memarjinalkan kekayaan lokal itu.

    Menurut catatan Himpunan Peternak Unggas Lokas Indonesia (Himpuli), terdapat 28 jenis ayam lokal asli Indonesia dan empat diantaranya berasal dari Jawa Barat.

    Keempatnya adalah ayam Sentul dari Kabupaten Ciamis, ayam pelung dari Cianjur, ayam ciparage dari Kabupaten Karawang, dan ayam jantur dari Kabupaten Subang. Ayam ciparage sudah punah dana yam jantur tak diketahui lagi populasi terakhirnya.

    Pupulasi unggas asli yang mampu bertahan adalah ayam pelung dana yam sentul karena pembudidayaannya masih banyak. “Ayam sentul untuk pedaging, sedangkan budidaya ayam sentul lebih mengarah ke hobi atau ayam fancy,” ujar ketua Himpuli Ade M Zulkarnain.

    Salah satu pembudidaya ayam pelung adalah Ade Abdurahman (50), warga Kampung Songgom, Desa Cipetir, Kabupaten Cianjur. Ketua Kelompok Tani Makmur Cipetir ini sudah lebih dari 30 tahun menggeluti ayam pelung. Dia paham betul karakteristik ayam jenis ini mulai dari menetaskan, membesarkan, hingga menjadi ayam kontes.

    “Kalau sudah memenangi kontes atau klangenan, harganya bisa Rp 10 juta-Rp 20 juta. Untuk seekor ayam harga jutaan hingga puluhan juta sebetulnya tidak normal, tetapi itulah kenyataan selama ini,” ujar Agus, Rabu (5/4), di Cibeber. Bandingkan dengan ayam jago biasa yang bagus sekalipun, harganya tidak sampai Rp 100.000 per ekor.

    Selain berkokok panjang dan merdu, ayam pelung bertubuh tinggi besar. Dengan bobot betina 4-5 kilogram dan jantan 2-3 kilogram, penampilannya indah dan gagah.

    Lomba atau kontes seni suara ayam pelung banyak digelar di sejumlah daerah di Jawa Barat, Jakarta dan Banten. Setiap minggu ada kontes ayam pelung mulai dari Depok hingga Kuningan di ujung Timur Jawa Barat.

    “Sekarang penyelenggaraan kontes dibatasi menjadi dua, yakni kontes regional dan terbuka se-Jawa Barat. Kontes di luar itu adalah latihan bernilai dan terbuka,” ujar Agus.

    Tradisi

    Agus dilahirkan dari keluarga petani Cianjur yang memiliki tradisi pertanian padi sawah, perikanan dan beternak sambilan, terutama ayam kampung. Karena itu, Agus sudah terbiasa memelihara ayam sejak kecil. Namun, setelah mengenyam pendidikan tinggi di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), ia malah mendalami perikanan di kampungnya.

    Sebagai ketua Kelompok Tani Makmur (KTM) di Cibeber, ia mendapat beasiswa untuk pendidikan perikanan. Agus pun dikenal sebagai ahli sekaligus praktisi perikanan yang sering diundang untuk mengajar perikanan di sejumlah tempat. Ia juga pernah diundang ke Jepang untuk mengajar dan mempraktikkan keahliannya di bidang perikanan.

    Setelah membagi pengetahuannya di luar negeri itulah muncul di benak Agus bahwa banyak potensi lokal Indonesia yang bisa dikembangkan. Akhirnya ia pulang kampung dan memilih menekuni ayam pelung yang selama ini menjadi peternakan sambilan petani Cianjur.

    Ia mempelajari sendiri karakteristik dan pengembangan ayam pelung itu agar tidak keluar dari sifat dan bentuk aslinya. “Perkawinan sedarah (inbreeding) sangat baik untuk kemampuan suara kokoknya yang merdu dan panjang. Hanya kelemahannya, ada penurunan berat badan dan daya tahan terhadap penyakit,” ujarnya.

    Kini di KTM Cibeber yang didirikannya tahun 1989 ada 5.000 ekor ayam pelung yang dikelola 220 petani peternak. Jumlah peternak di Kabupaten Cianjur sekitar 1.200 orang yang terhimpun dalam Himpunan Penggemar Ayam Pelung Indonesia (Hipapi) Kabupaten Cianjur. Kepemilikannya rata-rata 15 ekor setiap peternak. Agus memiliki sekitar 800 ekor ayam pelung dan itu merupakan populasi ayam pelung tertinggi di antara peternak.

    Selama 10 tahun memimpin Hipapi Cianjur, Agus mengelompokkan pembudidaya ayam pelung menjadi penggemar dan peternak yang banyak memiliki ayam. Penggemar adalah orang yang senang tampil atau kontes yang kepemilikan ayamnya 3-4 ekor.

    Dalam setiap kontes para penggemar ini biasanya berperilaku seperti peternak. Peternak murni biasanya tidak mau kontes, tetapi terus saja menjual ayam pelung yang dibudidayakannya.

    Seekor ayam pelung bisa bertelur 12-14 satu periode selama dua bulan, termasuk masa mengeram. Ayam pelung yang menetas tidak semuanya bagus karena diternakkan melalui seleksi.

    Setahun rata-rata lima siklus bertelur dan ayam betina ini bisa berusia sampai 4-6 tahun tergantung bobotnya jika didagingkan, ayam pelung tidak boleh lebih dari 3 bulan karena bentuknya seperti ayam biasa. Jika usianya lebih dari tiga bulan, tidak menarik untuk konsumsi. “Ruas-ruas ayam pelung terlalu besar karena ada ayam yang beratnya 6,5 kilogram,” ujar Agus.

    Prospektif

    Setelah populasinya menurun akibat flu burung, budidaya ayam pelung sangat prospektif. Pada tahun 2016-2017 ini ayam pelung sedang puncak-puncaknya karena berkembang melalui organisasi.

    Harga ayam pelung pun menjadi tidak normal jika dibandingkan dengan ayam ras atau jenis ayam lainnya. Harga anak ayam usia sehari (day old chicken/DOC) sudah Rp 50.000, atau Rp 200.000 satu pasang. Jauh lebih mahal daripada ayam biasa yang hanya Rp 6.000-Rp 10.000 per ekor.

    AGUS ABDURAHMAN

    Lahir: Cianjur, 18 Agustus 1966
    Pekerjaan: Peternak ayam pelung
    Ketua Himpunan Penggemar Ayam Pelung Indonesia (HIPPAPI) Jawa Barat
    Pendidikan:
    SDN, SMP, STM di Cianjur
    STTN/ISTN Jakarta 1988
    Istri: drg Endang Widawati
    Anak:
    Hawa Anggita
    Shamiracel
    Rana Damira


    Ayam jejangkar atau ayam yang mulai besar harganya Rp 1 juta dan ayam yang pernah menjuarai kontes harganya bisa Rp 10 juta-Rp 20 juta per ekor.

    Seiring dengan kegiatan usaha di KTM Cibeber, Agus menjadikan 220 peternaknya mejadi plasma. Ia menyebarkan ternak ayam pelungnya ke plasma, sedangkan peternakan Agus sendiri menjadi inti. Secara ekonomi budidaya ayam pelung menghasilkan pendapatan bagi peternaknya.

    Sejak 2015, KTM Cibeber menjadi sentra ayam pelung dan sumber bibit nasional oleh Kementrian Pertanian. Malah sekarang, Cibeber sedang dalam proses untuk dijadikan perwilayahan ayam pelung.

    Sistem wilayah ini sebagai langkah menuju industri ternak yang meliputi tiga kelas, yakni ayam pelung penyanyi, pedaging, dan petelur.

    Inti dari sistem perwilayahan ini adalah konservasi yang menekankan pada satu produk untuk satu daerah. Agus dan anggota KTM Cibeber yang setia melestarikan ayam pelung nyaris berjuang sendirian.

    Tautan: UC Library

    No comments:

    Post a Comment

    Kabar Kontes

    Wawasan

    Agenda